BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Hidup merupakan suatu perjuangan, oleh karena itu setiap manusia
yang hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan.
Cobaan memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali manusia
yang merasa sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari Allah swt. Bahkan
ada pula yang nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu untuk bertahan
dengan cobaan yang tengah dialaminya.
Hidup adalah ujian, maka atas kondisi apapun kita ada dalam ujian
Allah swt. Pada saat kita mendapatkan kesenangan, kelapangan rizki, menjadi
orang kaya ujiannya adalah pandai tidak kita bersyukur. Sedangkan pada suatu
ketika kita mendapatkan kesusahan, kesempitan rizki, menjadi orang miskin
ujiannya adalah mampu tidak kita bersikap sabar.
1.3 Rumusan Masalah
1) Bagaimanakah ujian dan cobaan
menurut pandangan islam ?
2) Bagaimanakah penjelasan ayat
Al-Qur’an dan hadits tentang ujian dan cobaan ?
3) Bagaimanakah prilaku orang
yang sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan ?
4) Bagaimanakah pendekatan diri
kepada Allah apabila mendapat kecemasan ?
5) Bagaimanakah sabar pada saat
mendapat ujian, sakit dan lapar ?
6) hikmah dibalik ujian
dan cobaan ?
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini ialah untuk mengetahui
seperti apakah : ujian dan cobaan menurut pandangan islam serta mengetahui
dalil – dalil Al-Qur’an dan hadits sekalikus mengetahi hikmah dibalik ujian dan
cobaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ujian dan Cobaan
Ujian Dan Cobaan Menurut Pandangan Islam ialah Allah swt mengatakan
di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk mengabdi
atau beribadah kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia yang tidak mau
beribadah kepada Allah swt maka ia tidak patut untuk hidup.
Ujian atau cobaan yang diberikan kepada manusia itu pada hakikatnya
sedikit, sehingga betapapun besarnya ujian atau cobaan, ia sedikit jika
dibandingkan dengan imbalan dan balasan yang akan diterima. Ujian yang
diberikan Allah sedikit. Ukurannya sedikit bila dibandingkan dengan potensi
rahmat yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Ia dikatan sedikit, dan
setiap manusia diuji semestinya harus mampu memikulnya sebab antara ujian dan cobaan
dengan potensi kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah lebih besar
potensi yang ada.
Ujian dan cobaan pada hakikatnya dibutuhkan dan diperlukan oleh
manusia dalam rangka untuk kenaikan tingkat. Ujian itu sendiri baik, yang buruk
adalah kegagalan menghadapinya. Allah memang tidak menerangkan kapan dan dalam
bentuk apa isi ujiannya, seperti para siswa atau mahasiswa ketika diberi tahu
hanya mata pelajaran yang akan diujikan tapi isi dari ujian itu tidak
diberitahukan.
Seseorang yang takut menghadapi ujian adalah ia sama dengan menuju
pintu kegagalan, dengan demikian juga ujian – ujian ilahi. Dengan demikian juga
manusia harus siap menghadapi sesuatu apapun bentuk ujian itu sendiri dan kita
yakin dengan membentengi diri dari segala macam bentuk ujian. Biarkan dia
datang kapan saja, sebab yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita
mampu menjawab atau menghadapinnya. Sebagaimana diterangkan dalam Al – Qur’an
sebagai berikut:
2.2 Surat QS. Al-Baqarah ayat 153 – 157
Qs. Al-Baqarah(2): 155-156)
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ)۱۵۵( الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ)۱۵۶(
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"
Ø Kandungan Surat diatas:
Sebagaimana telah disebutkan
dalam sejarah, pasca hijrah Muslimin dari
Mekah ke Madinah, orang-orang Musyrik menjarah harta Muslimin dan
mengganggu mereka. Di sisi lain, warga Yahudi Madinah menghina
Muslimah dengan sindirian lisan dan bersikap biadab kepada mereka. Hal ini
terus berlanjut sehingga Nabi marah dan mengeluarkan perintah agar para
pimpinan makar ini dibunuh.
Ayat ini menyinggung sunnah Tuhan yakni menguji. Kepada Muslimin
ayat ini mengatakan, "Janganlah anda mengira dengan masuk Islam,
kalian akan terus senang dan bahagia. Kalian harus siap diganggu dan
dihujani makar musuh. Bahkan sekiranya kalian tidak mengusik
mereka, mereka yang akan mengganggu kalian.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang
dapat dipetik:
a. Harta dan jiwa senantiasa
diuji. Hendaknya kita hidup sedemikian rupa sehingga siap memberikan jiwa dan
harta di jalan Allah.
b. Para penentang
Islam kompak menyerang Islam dan muslimin. Lebih mudah pengikut
agama lain mengikut orang-orang Musyrik guna melawan Islam.
c. Kesabaran dan takwa
merupakan faktor kemenangan. Keteguhan tanpa takwa juga dapat disaksikan pada
orang-orang yang keras kepala.
2.3 Hadits tentang ujian dan cobaan

Terjemah hadits :
Dari Shuaib,dia berkata, “ Rasulullah bersabda, “ Sungguh
menajubkan keadaan orang yang beriman karena semua urusannya baik. Hal itu
tidak bisa diraih seorangpun, selain orang yang beriman. Jika mendapatkan
kesenangan, diapun bersyukur dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah,
diapun bersabar dan itu adalah baik baginya. ( HR. Muslim )
Ø Penjelasan Hadits
Kandungan hadits diatas adalah sikap bersyukur ketika mendapatkan
kesenangan. Bersyukur dapat diartikan dari dua sisi. Pertama, pujian
karena adanya kebaikan yang didapatkan. Pujian ini muncul dari perasaan rida (
puas ) meskipun kebaikan yang diperoleh itu hanya sedikit. Namun ia tetap
selalu berbagi kesenangan tersebut dengan orang lain sebagai betuk ekspresi
rasa syukurnya.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Imam Mustafa Al-
Maraghi bahwa syukur adalah menggunakan segala bentuk nikmat yang diberikan
Allah sesuai dengan syariat islam. Makna syukur yang kedua adalah
kepenuhan dan kelebatan. Hal ini menunjukan bahwa siapa saja yang merasa puas
dengan kebaikan yang diterimanya meskipun kelihatan sedikit, ia akan selalu
tetap merasa bersyukur.
Kandungan lain dari hadits diatas adalah semua urusan orang yang
beriman akan menjadi baik apabila mau bersikap sabar pada saat ditimpa musibah.
Sebagai seorang beriman harus yakin apapun bentuk musibah yang ditimpakan pada
kita, sebab Allah tidak akan memberikan cobaan dan musibah kecuali sebatas pada
kemampuan manusia. Hal ini banyak tidak disadari oleh kebanyakan manusia
sehingga dengan sedikit musibah manusia sudah banyak putus asa bahkan ingkar
pada Tuhannya.
2.4 Prilaku orang yang sabar dalam menghadapi ujian
Perilaku orang yang tabah dan sabar dalam menghadapi ujian dan
cobaan sebagaimana terkandung dalam ayat dan hadits diatas adalah :
Selalu optimis dalam hidupnya.
Selalu baik sangka kepada Allah.
Memiliki sikap rendah hati.
Menerapkan perilaku tabah dan sabar dalam menghadapi ujian dan
cobaan.
Menanamkan keimanan yang kuat agar tidak mudah tergoyahkan oleh
terpaan musibah dan ujian seberat apapun.
Menanamkan keyakinan bahwa setiap ujian ada hikmahnya
Membiasakan berbaik sangka kepada Allah atas apa yang
diberikan-Nya, dan
Buang sikap egois dan emosional agar dapat mengendalikan hawa
nafsu.
2.5 Pendekatan diri kepada Allah saat mendapat kecemasan
Kegelisahan, kecemasan, ketidakteteraman, adalah ‘pekerjaan harian’
bagi manusia, kecuali mereka yang telah menemukan jalan yang benar. Rasa cemas
itu bisa menyangkut urusan yang kecil-kecil maupun yang besar-besar. Maka
libatkanlah Allah bagi siapa yang sedang mencari jalan keluar. Jalannya bisa
diawali dengan :
§ Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas
kemungkinan perbuatan dosa dan maksiat yang kita lakukan.
§ Kembali mengimani Allah. Kita harus percaya bahwa
Allah yang mengatur segalanya.
§ Beramal shaleh, yaitu melakukan kebaikan demi
kebaikan.
2.6 Sabar pada saat mendapat ujian, sakit dan lapar
Allah akan menguji hamba-Nya dengan kelaparan. Salah satu bentuk
ujian yang diberikan Allah terhadap keimanan hambanya adalah ujian akan
kelaparan. Kelaparan dapat terjadi pada keadaan-keadaan sulit seperti bencana
alam dan peperangan. Kelaparan yang sangat dekat dengan kemiskinan juga dapat
menjadi pintu ujian keimanan seseorang sebagaimana Rasulullah SAW pernah
berkata, “Kefakiran itu sangat dekat pintunya dengan berbuat keji.
Allah akan menguji hamba-Nya dengan kekurangan harta. Harta adalah
salah satu yang menjadi sumber perselisihan karena dianggap merupakan jaminan
kehidupan untuk hidup dalam kesenangan. Seseorang yang diuji Allah dengan
kekurangan harta apabila tidak kukuh imannya akan semakin menjaga hartanya,
enggan dan tidak mau mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah (infak,
sedekah dan zakat), dan semakin ia akan merasa kekurangan dan putus asa akan
harta yang dipunyainya. Orang sedemikian jauh dari rasa syukur dan jauh pula
dari berkah Allah terhadap harta yang dimilikinya.
Allah menguji hamba-Nya dengan kehilangan jiwa, yaitu kehilangan
karib, sahabat atau keluarga yang disayangi dalam hidupnya.
Allah akan menguji hamba-Nya dengan buah-buahan. Yang dimaksud
dengan buah-buahan di sini adalah kebun atau sawah ladang yang atas kehendak
Allah dapat mengalami gagal panen atau rusak karena hama dan binatang buas.
Pada keadaan demikian seseorang yang kurag kukuh imannya dapat berputus asa
dari rahmat Allah sehingga dapat terjebak pada perbuatan syirik dengan
mengadakan acara-acara khusus untuk menjamin berhasilnya panen kebun atau sawah
ladang mereka. Padahal tiada penjamin yang lebih kuas dan benar janjinya selain
Allah Ta’ala.
2.7 Hikmah dibalik ujian dan cobaan
Membersihkan dan menghapus dosa-dosa dan kesalahan serta
menghantarkannya kepada derajat yang tinggi di surga. Tidaklah hal itu
diperoleh melainkan bagi mereka yang mampu bersabar dan meng-harap pahala dari
Allah Ta’ala Tali
Memotivasi seseorang untuk benar-benar ikhlas dalam berdo’a.
Kembali bertaubat dengan sesungguhnya, pasrah dan berserah diri kepada.
Mengetahui betapa besar kenikmat-an dan kesehatan yang diberikan,
bagi mereka yang lupa akan kenikmatan tersebut. Karena kenyataan menunjukkan
bahwa apabila dibandingkan antara kenikmatan dan kesehatan akan jauh lebih
besar dan lebih banyak porsinya daripada kesengsaraan atau musibah yang
didapatkan.
Tidak peduli terhadap gemerlapnya dunia karena kefanaannya, dan
semangat dalam memotivasi diri untuk berlomba beramal dalam mempersiapkan hari
pertemuannya dengan Rabb Penguasa alam. Sesungguhnya seorang hamba
apabila berfikir dengan akal sehatnya tentang berpulangnya orang-orang yang
dicintainya, niscaya ia akan sadar diri, bahwa mereka telah mereguk air pelepas
dahaga dengan gelas yang mana ia harus melaluinya dengan gelas yang sama yaitu
kematian.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sudah menjadi kodrat sesungguhnya manusia adalah tempat salah dan
dosa. Namun sebaik – baik orang yang bersalah atau orang yang berdosa itu
adalah mereka yang segera melakukan taubat kepada-Nya. Pahamilah bahwa cobaan
dan ujian yang diberikan Allah kepada kita adalah modal kesuksesan kita dimasa
yang akan datang.
Yakinlah bahwa segala rupa kejadian kehidupan kita adalah
episode kehidupan yang harus kita jalani, dan kita tinggal mengembalikannya
kepada Allah Swt, baik cobaan atau permasalahn yang timbul akibat kesalahan
kita ataupun diluar kesalahan kita.
3.2 Saran
Sebagai hamba Allah yang beriman hendaklah kita senantiasa
bermuhasabah kepada-Nya agar setiap perjalan hidup kita selalu dalam ridho-Nya.
Kita tidak boleh ragu sedikitpun akan kekuasaan-Nya. Kita harus yakin bahwa
Allah benar – benar akan menolong kita. Karena dibalik ujian serta cobaan pasti
ada hikmah didalamnya.
















